Tuesday, November 3, 2015

Sincerely, Yang Merindu.

Berusaha tak memikirkanmu akhir-akhir ini mungkin sudah berhasil kulakukan.
Larut dalam tugas, hah, tugas terus datang tiap hari mengejarku sampai aku lumpuh untuk berlari. Game, huh, game yang selalu manja minta diupdate dan kesibukanku mengutak-atik controller yang baru kupinjam. Modem, yah, modem yang kubiarkan menyala berjam-jam dan kubiarkan habis karna updatean yang gak terduga. Dan kopi, meh, secangkir kopi disaat aku butuh secangkir rasa hangat saat rasanya dunia ini penuh omong kosong tak bermakna.

Tapi, ada saat-saat dimana aku terlalu rindu kamu.
Saat heningnya malam mulai menyapa, saat adamu sudah tak lagi kurasa.
Aku benar-benar pernah terlalu rindu kamu.
Pagi yang terlalu terbiasa dengan kabarmu, malam yang selalu berakhir dengan suara beratmu.
Aku pernah berkali-kali jatuh merindumu.
Tiap aku mencoba menepikanmu, segaris senyum jahatmu selalu memaksaku untuk terus memikirkanmu. Aku merindukan senyum itu.
Merindumu itu menyiksaku.

Friday, October 16, 2015

Kamu dan Secangkir Kopi

Setiap kali, saat pagi datang aku selalu menyapa matahari dengan hangat. Kantung mataku tak berarti apa-apa. Disetiap pagiku, seduhan kopi selalu menyegarkan ingatanku bahwa malam tak begitu panjang untuk ditangisi. Entah mengapa, kali ini seduhannya menghadirkan rasa pahit, aku kehilangan rasa manis dicangkirku.

Benar saja, semerbak aroma itu terus membangunkan ingatanku tentangmu, tentang kopi yang selalu kau hadirkan ditengah pembicaraan kita. Secangkir kopi yang selalu menemani hari-hari gelisahmu. Secangkir kopi hangat menghasilkan banyak cerita yang ingin kutahu.

Wednesday, October 14, 2015

Kamu dan Ketakutanku

Kamu dan balon,
Sama-sama pernah menjadi yang paling kusuka, sama-sama menjadi apa yang paling kutakuti sekarang.
Sesekali rasanya ingin kudekati, sekuat tenaga pula aku menjauh dan lari.
Kadang ingin kusentuh, namun asaku tak mampu.
Tanganku berharap bisa membawanya berjalan dan pulang, rasa takutku mengatakan jangan sekali-sekali.

Sunday, October 11, 2015

Sudah, ya?

Ragu-ragu tapi aku rindu. Kalau tak dicoba aku takkan tau.
Ada 5menit sepertinya aku menatap kontak dengan nomer handphone yang familiar dan tanpa basa-basi ku hapal diluar kepala. Mencoba meyakinkan hatiku utnuk menekan tombol dial.
"Kalau dia gak angkat telponku, aku mundur", yakinku dalam hati.
Aku mulai men-dial nomernya, menunggu.
Aku berharap ada suara yang menyambutku dengan hangat seperti biasa diujung sana. Suara yang menenangkan hari-hariku. Suara yang menjadi favoritku. Suara yang sampai saat ini sangat kurindukan. Suara yang berat tetapi sangat manis.

Sunday, September 20, 2015

Terulang Lagi

"Jangan pergi lagi, ya" gumamku pada diri sendiri. Sebenarnya aku ingin mengatakan itu padanya. Sudah berhari-hari kupendam bersamaan dengan rasa penasaranku akan perubahan sikapnya.
Tetapi malam itu terasa berat untuk dilalui. Kejujurannya terasa menampar bawah sadarku, membuatku terbangun dari hayalan dan menatap kenyataan yang sebenarnya. Aku memang bukan siapa-siapa dimatanya. Nyatanya memang begitu.
Sesaat kenangan singkat itu berkelebat seperti petir diotakku, menyengat ingatanku.
Aku memejamkan mataku, membiarkannya membuang kesedihan. Membiarkannya basah lagi.
Malam itu terasa hening. Hampa.

Friday, September 4, 2015

Terimakasih, kamu.

(fx : Tetap Dalam Jiwa - Isyana Sarasvati)

Hal terbodoh yang ku lakukan adalah men-dial nomer handphonenya. Berkali-kali, berulangkali, sampai mungkin dia merasa terganggu dengan adanya panggilan masuk dari kategori "orang yang tak lagi penting". Tanpa sadar airmatapun ikut menetes seraya mendengar nada sambung "tuut.. tuutt.. Nomer yang anda tuju blablabla". Jujur saja kuakui, aku merindukan saat-saat bisa selalu mendengar suaranya, saat-saat masih bisa mengganggunya ditengah malam dengan cerita tak penting. Jujur saja, didepan semua orang yang ku kenal, didepan mereka aku berlagak melupakannya. Berlagak dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Berbicara seenaknya. Pamer tawa dan rasa bahagia. Menunjukan hidupku lebih baik tanpanya. Tapi terkadang aku masih merindu, dan saat inilah puncaknya. Tangisku pecah.