Kehadiranmu kembali malam ini bukan menjadi hal yang luar biasa lagi untukku. Bukan lagi menjadi hal yang selalu ku nantikan ketika aku masih berumur lima tahun.
Bahkan mungkin saat itu aku hanya menantikanmu untuk membawakan ku mainan atau sekedar menantimu memberi kami selembar uang untuk hidup ketika kamu kembali pergi.
Sudah lama rasanya, aku seperti tak pernah memiliki. Seperti lupa bahwa aku terlahir karena adanya kamu. Tak ada kata yang mampu menjelaskan tentang gurat-gurat luka yang membekas. Rasanya sudah terlalu mati untuk mencinta dan memberi rasa iba padamu.
Terkadang ada kenangan yang mengintip diantara hamparan luas rasa yang mulai tandus. Mengoyak dan menyeruak diantara perihnya luka yang tak pernah mengering walau susah payah diobati.
Bahkan mungkin saat itu aku hanya menantikanmu untuk membawakan ku mainan atau sekedar menantimu memberi kami selembar uang untuk hidup ketika kamu kembali pergi.
Sudah lama rasanya, aku seperti tak pernah memiliki. Seperti lupa bahwa aku terlahir karena adanya kamu. Tak ada kata yang mampu menjelaskan tentang gurat-gurat luka yang membekas. Rasanya sudah terlalu mati untuk mencinta dan memberi rasa iba padamu.
Terkadang ada kenangan yang mengintip diantara hamparan luas rasa yang mulai tandus. Mengoyak dan menyeruak diantara perihnya luka yang tak pernah mengering walau susah payah diobati.