Friday, January 31, 2014

Rasakanlah

Sore menjelang, matahari tak bersinar seterik tadi siang. Awan terlihat mendung tetapi sepertinya hujan masih enggan turun. Aku menatap layar handphoneku berulangkali lalu kembali menatap langit dengan gelisah, mungkin sudah puluhan kali aku menuliskan pesan singkat lalu menghapusnya kembali. Menuliskan lagi lalu tak jadi mengirim ke kontak seseorang disana.
Menunggu kabar seseorang tak selalu menyenangkan. Apalagi ketika tak ada kabar sama sekali, tambah sangat menyebalkan.
Membuka kontak lalu mengusap layar handphoneku dengan seksama, mencari nama seseorang disana lalu mencoba men-dial nomornya. Namun, belum juga terhubung sudah kuputuskan untuk mengakhiri panggilan itu.

Thursday, January 30, 2014

Sampai akhirnya

Yang satu berjuang mempertahankan, yang satu seperti berusaha melepaskan.
Tau rasanya mati-matian mendapatkan tetapi berujung dengan mudahnya untuk dilepaskan?
Sulit untuk melepaskan genggaman ketika hal itu benar-benar sangat dibutuhkan. Sungguh, aku menyayangi kamu.
Ego telah menjadi batas diantara kita. Rahasia menjadi tebing terjal. Amarah menjadi jurang yang membentang.
Bukan satu dua hari kita berjalan bersama, bukan sejam dua jam kita berbagi cerita, bukan semenit dua menit kenangan yang kita lalui.
Aku benar-benar tak peduli, semua kelemahan, kekurangan bahkan kelebihanmupun ku terima.
Kadang aku bertanya, kita benar cinta atau hanya bertahan karena tak ingin menyakiti?

Tuesday, January 21, 2014

Topeng

Kamu, jangan berfikir bahwa yang bertopeng itu sedang memunafikan diri. Kadang, topeng membuatnya lebih aman untuk mengambil tempat didalam drama memuakan yang berkepanjangan. Kadang, yang bertopeng itu bukan berarti dia bermuka dua, hanya saja ia mencoba membuat dirinya bisa melupakan lukanya.
Katakanlah, dia sedang berusaha sekuat tenaga menutup luka diwajahnya agar kamu tidak jijik untuk berhadapan dengannya.
Katakanlah, dia sedang berusaha menutup amarah dengan seluruh kemapuannya agar kamu tidak menjauhinya.
Katakanlah, dia sedang berusaha memendam rasa sedihnya dihadapan ribuan wajah yang sedang tersenyum bahagia dihadapannya.

Sunday, January 19, 2014

Tetap Rindu

Malam mulai larut, aku masih terjaga. Menerawang langit-langit kamar, mencoba menepikan semua kekacauan yang ada di pikiranku.
Ditemani suara rintik hujan yang mencoba menerobos hening malam kali ini.
Aku mencoba memejamkan mata, tetapi sulit. Menanggung rindu sendiri, selalu seperti ini. Diabaikan, tak pernah ditanggapi.
Teringat sore itu, dia lebih memilih diam sepanjang jalan pulang, di bawah naungan awan yang kelabu. Tak mengerti, kesalahan apalagi yang kuperbuat, kebodohan apalagi yang kulakukan.
Rasa penasaran mulai membuat sifat kekanak-kanakanku mengicaukan pertanyaan bertubi-tubi, yang mungkin membuat kepalanya hampir pecah.

Thursday, January 9, 2014

Ketidakpedulian


“seandainya kamu tau” gumamku pelan. Selalu saja aku bergumam sendiri, memaki diri sendiri setelah kamu beranjak pergi dari hadapanku. Rasanya ingin sekali aku menghantam wajahmu ketembok berwarna orange itu.
Sekalipun. Sungguh, dengarlah. Mengertilah. Aku ingin berbicara. Melampiaskan segala rasa yang tersekat ditenggorokanku. Ini sulit dijelaskan.
Aku hanya bisa menunjukan sikap tenang menghadapi kamu. Tapi nyatanya, otakku selalu memaksa untuk diam, sementara hatiku memaksaku untuk memakimu. Sepuasku, sampai lega rasa hatiku.
Ingin rasanya membongkar isi otakku, mengeluarkan dan memusnahkan semua tentangmu. Semua tentang kita, dibawah naungan hujan. Ditengah keramainan. Menghapus semua janji yang selalu kau ucapkan. Semu.

Sunday, January 5, 2014

Teringat Luka Lagi


Kembali kewaktu aku pernah kehilangan.
Ada seseorang datang dari masalalu yang berjuang walau tak pernah ku tatap. Ada seseorang yang rela jatuh bangun mengobati luka yang padahal bukan dia sebabnya.
Selalu dia berucap “biarkanlah aku menyembuhkan lukamu, menghapuskan sakitmu. Tetaplah bersamaku, aku akan membantumu melupakannya. Menebus kesalahanku dulu”
Dia selalu memintaku memberikannya kesempatan. Tetapi, bukan aku namanya jika tak pernah mampu menemukan jawaban dengan cepat.
Hingga saat aku tak dapat menemukan arah, ia tetap mau menuntunku keluar dari kenangan itu.
Ikhlas ia mengobati lukaku sampai hampir mengering. Hampir sembuh.
Tetapi betapa gilanya aku. Tak pernah menatap ketulusannya. Aku bisa merasakannya, tetapi aku tak dapat membalasnya.

Sesukamu, sebisamu


Seiring waktu, semuanya berubah. Entah aku, kamu, dia, mereka atau siapapun. Pasti.
Walau kadang tak tampak, terkadang terasa nyata.
Aku mulai mengais-ngais serpihan tentang kita dihamparan kenangan yang mulai tandus. Kering.
Mencari sisa-sisa kenangan yang sudah kamu lupakan.
Semakin jauh. Semakin terasa perih.
Luka yang masih basah ini tetap kubawa mengenang. Semakin lama semakin membusuk.
Kau kembali. Dengan sejuta kenangan, mulai mengeringkan luka.
Mengobatinya dengan sejuta harapan.
Aku bahagia. Aku merasa bahagia.