Friday, December 20, 2013

kali ini ...




Seperti biasa, kali ini aku duduk di koridor. Kakiku memaksa untuk menuju keparkiran dan segera pulang. Seharian senatap papan tulis membuat mataku agak senewen. Tetapi, keinginanku memaksa untuk duduk saja disini. Baiklah, kakiku harus mengalah. Aku mengambil laptopku, mencoba menuliskan beberapa cerita, hm cerita yang mungkin  tak dimengerti oleh semua orang. Aku suka bercerita tentang kenyataan, tetapi membuatnya seolah hanya fiksi tak nyata.
Oh iya, biasanya, jam segini aku mendengar suara pantulan bola dilapangan. Suara-suara teriakan isyarat meminta bola. Suara decit sepatu yang bergesekan dengan lantai lapangan. Tapi, sayangnya kali ini tak ada jadwal latihan. Haha.

Wednesday, December 18, 2013

Ketika Itu


Awan mengerti, aku tak dapat menahan terik sinar matahari yang sejak pagi menyilaukan pandanganku. Sehingga awan berusaha menutupi sang matahari dengan warna kelabunya. Hembusan angin mencoba memelukku, dingin. Langit menjadi gelap. Aku masih belum beranjak dari tempat favoriteku. Aku masih terpaku dengan sosok yang selalu bisa menenangkan hatiku. Aku masih menatap setiap gerakannya yang begitu bebas dilapangan. Jersey tanpa lengan dengan nomer punggung #15 itu sudah mencuri pandanganku sejak lama. Ya, lagi-lagi aku menunggunya. Entah sudah berapa lama aku menunggunya. Aku menyukainya, mungkin sudah lama. Mengaguminya, sudah sangat lama. Cinta pandangan pertama? Ya, begitulah mungkin sebutannya. Aku tak pernah meremehkan perasaan.

Monday, December 16, 2013

Butuh Judul

Kamu begitu istimewa hingga aku mengagumi setiap cerita tentang kamu.
Aku salah satu dari banyaknya mereka yang mendekati kamu.
Dengarlah setiap jerit tak bersuaraku memanggil namamu dalam pedih pengabaian.
Lihatlah gores luka yang tak tampak tapi begitu perih dalam kelamnya harapan.
Rasakanlah hembus nafas lemah, hampir sekarat yang mencoba mengejar langkahmu.
Sadarkah, aku yang begitu menginginkanmu sampai terjatuh dalam penantian.
Kamu pencuri hatiku, pencuri senyumku.

Kabar Moveon


Malem itu, entahlah. Galau banget gila. Stressed-out, pingin nangis sekenceng-kencengnya, sekejer-kejernya, senyaring-nyaringnya, sepuas-puasnya.
stalkerin mantan, emang gak ada kapoknya. Dia sering ngetweet syukur, kalau jarang ngetweet dan tweetnya sebulan sekali? Mampus dah.
mantan, entahlah. Lagi-lagi entahlah. Kali ini, mantan yang satu ini, gabisa banget buat di singkirin dari kepala. Gabisa banget disingkirin dari pandangan. Gabisa banget. Gatau dah, gak bisa sama belum bisa beda tipis. Yakali.
deg-degan. Liat dia mentionan sama siapa. Nebak tweetnya ditujuin buat siapa. Gak tau dah.
sampai akhirnya, aku ngerasa dia udah muvon. Yop, muvon.
galau, sumpah. Gak jelas. Campur aduk, berasa gatau lagi. Hilang arah, hilang navigasi, butuh gps banget buat keluar dari labirin kenangan.

Wednesday, December 4, 2013

Lagu (dan) Kita


Sekarang kita sibuk mendengarkan lagu kita masing-masing.
Bukan lagi lagu kita seperti biasanya.
Kini lagu kita tak lagi sama. Sesering apapun aku mendengarkan lagu kita, terasa berbeda ketika tak bersamamu. Menyanyikannya bersamamu, sambil tertawa, dalam tangisan.
mungkin kamu sedang mendengarkan lagu kesukaan dia. Atau, kamu sedang mengenang lagu kita? Haha. Lagi-lagi aku menyebut kita.
Kita? Iya, saat kita masih dalam lagu yang sama.
Iya, kita. Aku dan kamu yang selalu sibuk bernyanyi bersama.
Iya, kita. Kata kita mungkin sudah tak cocok lagi. Itu sudah lama terjadi.
Sudah tak ada kita dalam setiap lirik lagunya.

Monday, December 2, 2013

SADAR DIRI!


Harusnya kamu tau diri!
Sadar, tangan itu bukan buat menggenggam tanganmu lagi.
Sadar, peluknya bukan buat nenangin kamu lagi.
Sadar, semua lagu yang dinyanyikannya bukan buat kamu lagi.
Sadar, semua cerita dia bukan tentang kamu lagi.
Sadar, semua cintanya bukan untuk kamu lagi.
Sadar, semua canda tawanya sudah gak dibagi buat kamu lagi.
Sadar! Harusnya kamu tau diri.
Dia sudah bisa menghapus kamu dari hatinya. Bukan kamu lagi yang ada dipikirannya.

Mengalah?


Bisakah kamu tak seolah memberi harapan bahwa semuanya akan kembali seperti semula, jika hatiku tak sepenuhnya meyakinkan itu?
Aku lelah dengan pengharapan. Aku lelah mengejar bayangmu.
Sungguh, aku masih begitu menyimpan rasa itu. Tapi, aku tak pernah ingin memaksamu lagi.
Sudah terlalu jauh bayangmu untuk ku gapai.
Rupanya banyak rahasia yang kini kau simpan,entah tentang apa.
Rupanya banyak rahasia yang kini kau telan sendiri, entah untuk apa.
Aku hanya bisa menerka. Kini hatimu untuk siapa.